Lain-lain

Ditulis oleh BCC

BULAN suci Ramadhan disambut suka cita oleh umat Muslim dunia, termasuk Indonesia. Ada beragam cara unik dalam mengekspresikannya, bahkan menjadi tradisi turun-temurun.

Di Gorontalo, misalnya, para perempuan membalurkan rempah-remah tradisional ke wajah. Tradisi ini diyakini akan membuat wajah tetap cantik dan segar selama Ramadhan.

Beda lagi dengan warga adat Bonokeling di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mereka memiliki tradisi berjalan kaki tanpa alas kaki menuju makam leluhur untuk berziarah menjelang Ramadhan.

Lalu di Dandangan, Kudus, Jawa Tengah, Ramadhan disambut dengan berbagai hiburan rakyat, termasuk pertunjukan tari kolosal.

Ada pula tradisi makan telur ikan mimi atau ikan pari. Yang ini merupakan tradisi warga Kendal, Jawa Tengah, untuk menyambut bulan Ramadhan. Uniknya lagi, telur ikan mimi hanya ada saat Bulan Ramadhan.

Berikutnya, tradisi unik dengan sebutan mabacca-baca menjadi cara warga Polewali Mandar, Sulawesi Barat untuk menyambut Ramadhan. Demi kelancaran ibadah puasa, mereka menggelar ritual doa disertai suguhan sejumlah makanan tradisional.

Tentu saja, sangat mungkin ada lebih banyak lagi tradisi unik di berbagai penjuru Nusantara untuk menyambut Ramadhan. Lima tradisi ini hanya sejumput di antaranya.

Mau tahu lebih lanjut penjelasan tentang kelima tradisi tersebut?

Mohibadaa

  1. MOHIBADAA dalam bahasa Gorontalo kurang lebih berarti menggunakan bedak dengan ramuan rempah-rempah tradisional sebagai baluran wajah (masker).

Mohibadaa atau masker wajah dengan bahan rempah tradisional menjadi pilihan para gadis selama bulan Ramadhan di Gorontalo.

Dok JEMI MONOARFA

Mohibadaa atau masker wajah dengan bahan rempah tradisional menjadi pilihan para gadis selama bulan Ramadhan di Gorontalo.

Di luar Ramadhan, tradisi membalurkan ramuan campuran aneka rempah ini sebenarnya juga dilakukan untuk menjaga kecantikan wajah.

Namun, tradisi mohibadaa disebut lebih spesial menjelang Ramadhan. Alasannya, puasa dapat membuat kulit—termasuk wajah—menjadi kering karena sepanjang hari tak makan dan minum. Terlebih lagi, cuaca di Gorontalo cenderung panas menyengat.

“(Bahan ramuan) terdiri atas tepung beras, humopoto (kencur), bungale (bangle), dan alawahu (kunyit),” kata Jemi Monoarfa, penggiat pertanian tradisional di Gorontalo, saat berbincang dengan Berita.cc, Senin (21/5/2018).

Jemi menyarankan, tepung beras yang dipakai berasal dari beras pulo (ketan). Menurut dia, tepung dari jenis beras ini lebih halus.

Pertama-tama, beras direndam dengan air secukupnya. Lalu beras itu ditumbuk bersama aneka rempah hingga tercampur halus menjadi tepung. Sudah, tinggal dioles ke wajah.

Rendaman beras ini kemudian ditumbuk bersama aneka rempah hingga tercampur halus, seperti tepung. Setelah itu siap dioleskan ke wajah.

Bagi yang tidak ingin repot, paket bahan rempah tradisional ini bisa dibeli di pasar tradisional dengan harga Rp 15.000. Di rumah, bahan tersebut tinggal dihaluskan sesuai kebutuhan.

“Nenek saya selalu menyiapkan ramuan ini sepanjang Ramadhan,” kata Siti Rohana Lakadjo, salah satu warga Kota Gorontalo.

Buat warga Gorontalo, mohibadaa sudah menjadi tradisi sehari-hari, terlebih lagi setiap Ramadhan.

 “Bukan hanya aromanya yang harum sepanjang hari, kulit kita juga menjadi kencang sehat berseri,” tutur Asri Hudji, juga warga Gorontalo.

Menurut Asri, terbiasa melakukan mohibadaa akan membuat wajah lebih segar, tidak kering, bahkan mencegah kerutan.

 “(Kulit) terasa kenyal sehat. Tidak khawatir dengan ramuannya karena semua bahan tradisional dan alami,” imbuh Asri.

  1. Laku lampah trah Bonokeling

BARISAN perempuan yang mengenakan kain (jarik) dan kemben seperti dalam foto di bawah ini merupakan tradisi unik warga adat Bonokeling di Kabupaten Banyumas, setiap menjelang Ramadhan.

Para perempuan penganut adat Bonokeling, berbaris menuju kompleks pemakaman leluhur mereka di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (5/7/2013). Mereka menjalankan tradisi Unggah-unggahan, ziarah kubur ke makam leluhur yang digelar setiap menjelang bulan Ramadhan.

KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO

Para perempuan penganut adat Bonokeling, berbaris menuju kompleks pemakaman leluhur mereka di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (5/7/2013). Mereka menjalankan tradisi Unggah-unggahan, ziarah kubur ke makam leluhur yang digelar setiap menjelang bulan Ramadhan.

Namun, yang berbaris dan lalu berjalan kaki bersama-sama ke areal pemakaman leluhur setempat tak hanya perempuan.

Slamet (45), misalnya, adalah salah satu lelaki warga adat Bonokeling yang ikut dalam barisan tersebut, saat dijumpai Berita.cc pada Kamis (10/5/2018).

Sudah begitu, mereka berjalan tanpa alas kaki di bawah terik matahari yang menyengat. Mereka menuju pemakaman leluhur di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, untuk berziarah, sebagai bagian ritual menyambut bulan suci Ramadhan.

Kasepuhan (pemuka adat) trah Bonokeling, Sumitro, mengatakan, sepekan sebelum memasuki bulan puasa, trah Bonokeling atau yang biasa disebut anak-putu (anak-cucu, keturunan) menjalani laku lampah ini.

Laku lampah alias ritual berjalan kaki tersebut mewajibkan setiap anak-putu trah Bonokeling dari berbagai wilayah untuk berjalan kaki ke Desa Pekuncen.

Laku lampah mewajibkan setiap anak-putu trah Bonokeling dari berbagai wilayah untuk berjalan kaki ke Desa Pekuncen.

Anak-putu trah Bonokeling tersebar dari Adipala, Daun Lumbung yang masuk wilayah Kabupaten Cilacap hingga warga Kedungwringin dari Kabupaten Banyumas.

Makam leluhur yang dituju adalah pusara Ki Bonokeling.

Anak-putu akan istirahat semalam di Pekuncen. Acara puncak adat, Unggahan atau Nyadran, yakni berziarah ke makam Ki Bonokeling pada Jumat (11/5/2018),” kata Sumitro.

Masih ada lanjutannya. Pada Senin (14/5/2018), dilangsungkan Rikat Akhir, yakni membersihkan lokasi makam Ki Bonokeling.

Bersih-bersih areal makan tersebut menjadi penutup rangkaian ritual. Para anak-putu pun pulang ke rumah masing-masing dan menyambut Ramadhan yang pada tahun ini dimulai pada Kamis (17/5/2018).

Trah Bonokeling, kata Sumitro, merupakan masyarakat adat Islam kejawen. Mereka hanya mengenal hisab berdasarkan almanak Jawa Alif Rebo Wage (Aboge) sebagai penentu hari besar keagamaan.

“Hitungannya pasti. Awal puasa jatuh pada Kamis (17/5/2018), pasarannya pahing, itu terhitung 1 Aboge. Tahunnya Dal,” ujar dia.

Almanak Jawa Aboge juga menjadi panduan bagi trah Bonokeling dalam aktivitas sehari-hari. Ambil contoh, untuk menentukan hari baik hajatan, mulai dari pernikahan sampai acara adat.

Saat ini, di Pekuncen sendiri trah Bonokeling kurang lebih ada 2.000 orang. Adapun di Adiraja, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, ada 13 bedogol (pemuka adat), yang masing-masing membawahi trah Bonokeling.

Menjelang Ramadhan 2018, kurang lebih 3.000 trah Bonokeling mengikuti acara adat Unggahan di Desa Pakuncen.

 

  1. Dandangan

INILAH tradisi yang biasa dilakukan warga Kudus, Jawa Tengah, setiap menjelang Ramadhan. Punya nama dandangan, pada tahun ini tradisi tersebut digelar pada Rabu (16/5/2018), di Alun-alun Kudus.

Pedagang menggelar dagangan saat tradisi dandangan di ruas Jalan Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah.

Berita.cc/PUTHUT DWI PUTRANTO NUGROHO

Pedagang menggelar dagangan saat tradisi dandangan di ruas Jalan Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah.

Ribuan warga berkerumun di alun-alun sejak sore untuk menyaksikan kegiatan tersebut. Kegiatan yang berlangsung hingga malam hari itu diramaikan dengan persembahan tarian kolosal dan beberapa hiburan lain.

Menampilkan puluhan penari, tarian kolosan ini menceritakan mulai dari sejarah industri pengolahan tembakau di Kudus hingga sejarah Sunan Kudus.

Dandangan diyakini sebagai salah satu tradisi peninggalan Sunan Kudus sejak 450 tahun lalu, yang dilakukan untuk menyambut datangnya awal Ramadhan.

Dandangan diyakini sebagai salah satu tradisi peninggalan Sunan Kudus sejak 450 tahun lalu, yang dilakukan untuk menyambut datangnya awal Ramadhan.

Dandangan bermula dari masyarakat yang berkumpul menanti pengumuman awal dimulainya waktu puasa.

Pada awal mulanya, konon pengumuman awal bulan puasa akan disampaikan oleh pemimpin sekaligus ulama pada waktu itu, Jakfar Shodiq.

Pengumuman diserukan dari Menara Kudus dan ditandai dengan tabuhan beduk di masjid. Nah, bunyi beduk yang menggema “dang dang dang” itulah yang kemudian akrab disebut dandangan.

Seiring berjalannya waktu, keramaian ini menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menggelar lapak.

Hingga saat ini menjelang Ramadhan, Jalan Sunan Kudus selalu dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) dengan kemeriahan pasar malam.

Beraneka ragam dagangan dijajakan di kawasan perkotaan itu, mulai dari pernak-pernik aksesoris, hiasan miniatur, perabot dapur, hingga oleh-oleh khas Kudus.

Makan telur mimi

TRADISI unik lainnya dalam menyemarakkan bulan suci Ramadhan adalah memakan telur mimi. Kebiasaan yang ini dilakukan warga Kendal, Jawa Tengah.

Penjual telur mimi di halaman masjid Agung Kaliwungu menjelang bulan puasa.

Berita.cc/ SLAMET PRIYATIN

Penjual telur mimi di halaman masjid Agung Kaliwungu menjelang bulan puasa.

Setiap menjelang Ramadhan, warga berebut membeli telur dari ikan mimi (ikan belangkas, bentuknya kerap dianggap menyerupai ikan pari) itu.

Salah satu warga Kaliwungu, Kendal, Rondiyah (35), menjelaskan, budaya makan telur mimi sehari sebelum puasa adalah tradisi yang sudah lama ada. Namun, ia mengaku tidak tahu alasan warga harus makan telur mimi menjelang puasa.

Menurut Rondiyah, telur mimi itu bisa dibeli di halaman masjid besar Kaliwungu. Sebab, di tempat itu selalu ada pasar tiban setiap menjelang puasa. Biasanya, telur mimi diolah menjadi bothok—dicampur dengan parutan kelapa, dibungkus daun pisang, lalu dikukus—atau pepes.

“Sehari sebelum puasa, ada tradisi tukuder. Artinya membeli makanan, di antaranya telur mimi,” ujar Rondiyah.

Sama seperti Rondiyah, warga Kaliwungu lainnya, Rokhanah (40), juga mengaku, tradisi makan telur mimi menjelang Ramadhan sudah ada sejak ia masih kecil.

“Rasanya gurih,” kata dia.

Adapun penjual telur mimi, Meli Saadah, mengaku sudah bertahun-tahun berjualan telur mimi setiap menjelang puasa.

Namun menurut cerita dari mulut ke mulut, tradisi makan telur mimi pada bulan Ramadhan ini sudah ada sejak zaman wali yang menyebarkan agama Islam di Kendal.

“Saya berjualan usai zuhur. Pembeli langsung berdatangan. Saya selalu kerepotan melayani pembeli itu,” tutur dia.

Meli menjelaskan, telur mimi yang ia jual didapat dari nelayan. Namun, ia juga tidak tahu mengapa ikan mimi itu hanya ada setiap menjelang bulan puasa.

“Kalau menurut nelayan, dia pernah menangkap ikan mimi jauh hari sebelum memasuki bulan puasa. Tapi belum bertelur. Ikan Mimi yang ditangkap menjelang bulan puasa, kebanyakan bertelur,” tutur Meli.

Meli menjual telur mimi seharga Rp 5.000 untuk satu plastik. Lalu, untuk satu pasang ikan mimi dijual seharga Rp 50.000.

Terkait hal itu, salah satu ulama Kaliwungu Kendal, Alamudin Dimyati Rois mengatakan, masyarakat Kaliwungu merasa kurang afdhal kalau belum makan telur mimi menjelang dan saat bulan puasa.

Ini tradisi sejak zaman nenek moyang, dan sampai kini masih ada.

“Tradisi makan telur mimi adanya di Kaliwungu. Di lain daerah sepengetahuan saya tidak ada,” kata Alamudin.

Meski begitu, anggota DPR yang biasa disapa Gus Alam ini pun mengaku tidak tahu secara pasti sejarah warga makan telur mimi menjelang Ramadhan.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, kata Alamudin, tradisi makan telur mimi pada bulan Ramadhan ini sudah ada sejak zaman wali yang menyebarkan agama Islam di Kendal.

“Kebenarannya hanya Allah yang tahu. Saya sudah menjumpai tradisi ini sejak saya masih kecil,” kata Alamudin.

  1. Mabbaca-baca

  2. TIDAK kalah unik, ada tradisi masyarakat Dusun Macera, Desa Mammi, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, setiap mengawali puasa yang dikenal dengan nama mabbaca-baca.

  3. Tradisi masyarakat Polewali Mandar menyambut Ramadhan, yakni ritual Mabbacabaca dan bakar pallang dari empat penjuru mata angin, Rabu (16/5/2018)

    Berita.cc/JUNAEDI

    Tradisi masyarakat Polewali Mandar menyambut Ramadhan, yakni ritual Mabbacabaca dan bakar pallang dari empat penjuru mata angin, Rabu (16/5/2018)

    Dalam ritual tradisi ini, warga menyajikan nasi ketan, kari ayam, telur, dan aneka buah segar, serta membakar pallang atau lilin tradisional yang terbuat dari kapas dan biji kemiri.

  4. Pallang dinyalakan di empat penjuru mata angin, juga dipasang di halaman rumah, dan disusun di atas tangga. Bahkan, pallang dibakar pula di tempat penyimpanan beras dan pusat kegiatan keluarga dalam satu rumah.

  1. Lilin yang dibakar angkanya wajib berjumlah ganjil, misalnya 7, 9, 11, dan seterusnya. Selama dibakar, lilin tidak boleh padam. Warga harus tetap menjaganya hingga betul-betul padam karena habis terbakar.

  2. Tradisi ini merupakan ungkapan doa agar pemilik rumah diberi petunjuk dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa yang penuh dengan ujian kesabaran dan kejujuran.

  3. Mabbaca-baca ini merupakan ungkapan doa agar seisi rumah bisa sehat, kuat dan mendapat berkah selama menjalankan ibadah puasa

  4. Sejak Rabu (16/5/2018) siang sampai menjelang malam, warga sudah mulai sibuk di dapur untuk mempersiapkan berbagai makanan yang akan disajikan, seperti opor ayam, pisang, nasi beras ketan, dan telur.

  5. Sebelum makanan dan buah manis disantap bersama keluarga, sajian ini terlebih dahulu didoakan oleh khatib atau imam masjid setempat.

  6. Mabbaca-baca ini merupakan ungkapan doa agar seisi rumah bisa sehat, kuat, dan mendapat berkah selama menjalankan ibadah puasa,” jelas Wiwi, ibu rumah tangga Dusun Macera, Polewali Mandar, kepada Berita.cc.

  7. Wiwi mengaku sejak siang sudah sibuk mempersiapkan berbagai keperluan ritual menyambut Ramadhan.

  8. Adapun Anto, warga Desa Mambuliling, Polewali Mandar, bertutur, makna dari tradisi bakar pallang adalah agar pemilik rumah diberi petunjuk dan terhindar dari segala gangguan atau godaan setan selama melaksanakan ibadah puasa hingga Idul Fitri.
  9. “Tradisi ini dilakukan sebelum melaksanakan ibadah shalat tarawih,” kata dia.

Berikan komentar