Nasional

Keterangan Palsu Akta Notaris untuk Klaim Aset Nasionalisasi

Ditulis oleh BCC

Sidang kasus keterangan palsu Akta Notaris Nomor 3/18 November 2005 kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, dengan agenda mendengar keterangan saksi Benny Wullur, pelapor dari pihak YBPSMKJB. Kasus tersebut menyeret tiga terdakwa, yaitu Edward Soeryadjaya, Maria Goretti Pattiwael, dan Gustav Pattipeilohy.

Dalam sidang Kamis (9/11) itu, Benny mengatakan bahwa organisasi Perkumpulan Lyceum Kristen (PLK) tidak terkait dengan Het Christelijk Lyceum (HCL) yang dulu merupakan organisasi asing pemilik awal aset lahan SMAK Dago.

“PLK dan HCL adalah dua organisasi yang berbeda,” kata Benny. Benny menjelaskan, HCL merupakan organisasi yang resmi dibubarkan secara hukum oleh pemerintah dan tidak lagi memiliki penerus lembaganya.

Sedangkan PLK, kata Benny, merupakan organisasi baru yang sama sekali tidak terkait dengan HCL. Dalam kesaksiannya, Benny membeberkan ada keterangan palsu dalam Akta Notaris Nomor 3/18 November 2005 yang digunakan PLK sebagai dasar mengakui aset nasionalisasi SMAK Dago.

Kemudian keterangan palsu tersebut dijadikan dasar gugatan di sidang perkara perdata aset nasionalisasi SMAK Dago. Benny juga mengungkapkan, ketiga terdakwa merupakan keputusan hasil penyelidikan Polda Jawa Barat.

“Kami hanya melaporkan tentang adanya pemalsuan keterangan Akta Notaris Nomor 3/18 November 2005. Kami tidak menyebutkan nama orang dalam laporan kami,” ujar Benny.

Sidang selanjutnya akan digelar Rabu (15/11) dengan agenda pemeriksaan dua orang saksi lainnya.

Berikan komentar