Internasional

Hubungan AS dan Turki dalam Bahaya, Erdogan Ancam Cari Sekutu Baru

Ditulis oleh BCC

ISTANBUL, Berita.cc – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, hubungan negaranya dengan Amerika Serikat mungkin dalam bahaya. Turki bahkan memperingatkan bisa saja bertindak untuk mencari sekutu baru.

Demikian laporan dari New York Times yang terbit pada Sabtu (11/8/2018), seperti diwartakan AFP.

Hubungan antara dua sekutu NATO itu mencapai titik terendah, menyusul timbulnya berbagai masalah termasuk penahanan pendeta asal AS, Andrew Brunson, atas tuduhan teror.

Kini, nilai tukar mata uang lira terhadap dollar AS mencapai rekor terendah.

Baca juga: Erdogan: Jika AS Punya Dollar, Turki Punya Rakyat dan Tuhan

Lira merosot 16 persen terhadap dollar AS pada Jumat (10/8/2018), setelah Presiden AS Donald Trump menggandakan tarif impor baja dan aluminium atas Turki.

Erdogan memperingatkan AS agar tidak mempertaruhkan hubungan dengan Turki. Dia mengatakan, negaranya akan mencari kawan dan sekutu baru.

“Kecuali AS mulai menghormati kedaulatan Turki dan membuktikan bahwa negara itu paham tentang bahaya yang sedang dihadapi bangsa kita, relasi kita bisa dalam bahaya,” tulisnya di halaman New York Times.

“Kegagalan untuk membalikkan tren unilateralisme dan tindakan tidak hormat ini akan mengharuskan kami untuk mulai mencari kawan dan sekutu baru,” imbuhnya.

Sebelumnya, Erdogan meminta rakyat Turki tidak khawatir atas fluktuasi nilai tukar. Dia mengatakan, Turki masih memiliki beberapa alternatif dari Iran, Rusia, China, dan beberapa negara Eropa.

Baca juga: Parpol di Turki Minta Erdogan Ambil Alih Menara Trump di Istanbul

Dalam kicauan di Twitter, Trump mengumumkan pengandaan tarif impor sebagai sanksi baru bagi Turki.

“Hubungan kami dengan Turki sedang tidak bagus saat ini,” kicaunya.

Penangkapan pendeta Brunson sejak Oktober 2016 telah membuat hubungan AS dan Turki memburuk.

Brunson merupakan pendeta Protestan yang memimpin gereja di kota Aegean, Izmir, Turki.

Kini, dia menjadi tahanan rumah, setelah selama dua tahun mendekam di penjara atas tuduhan spionase dan mendukung kelompok teror.

Berikan komentar