Yogya

Dangdutan Pakai Kostum Wayang Viral, Protes Keras Dihujani Netizen

Ditulis oleh BCC

YOGYAKARTA – Pentas dangdut yang digelar OM Bolodewo di Panggung Hiburan XT Square Yogyakarta, Jumat Agustus 2018 malam sempat menjadi viral di media sosial khususnya kalangan pelaku seni di DIY. Pasalnya, penggunaan busana yang identik dengan dunia pewayangan tersebut dinilai kurang tepat.

Bahkan, ada sejumlah pihak yang memiliki komentar cukup pedas di media sosial karena memandang hal tersebut merupakan salah satu bentuk pelecehan pada budaya lokal. Sebab, penyanyi dangdut yang mengenakan busana tersebut tidak mengenakan bagian bawah busana secara lengkap sehingga terlihat cukup seksi.

“Sama sekali tidak ada niatan dan keinginan kami untuk melecehkan kebudayaan. Sedikit pun niat tersebut tidak ada sejak awal. Jika ada beliau-beliau dengan sudut pandangnya menilai hal tersebut salah, kami dengan tulus mohon maaf yang sebesar ya,” ucap pimpinan OM Bolodewo, Bowo Whuzz saat dikonfirmasi KRjogja, Sabtu (11/8/2018).

Menurut Bowo, acara tersebut merupakan konser spesial menandai Ultah ke-5 OM Bolodewo. Pihaknya sengaja mengambil tema tentang busana wayang karena disesuaikan dengan nama Bolodewo yang merupakan salah satu tokoh pewayangan.

“Jadi sekali lagi, tidak ada sedikitpun niatan melecehkan. Justru niat kami ingin turut melestarikan budaya pewayangan melalui musik dangdut,” ungkap Bowo.

Dijelaskan Bowo lebih lanjut, sebenarnya pihaknya ingin ikut mengenalkan insan dangdut dengan dunia wayang. Sehingga pewayangan juga dikenal pelaku musik dangdut yang notabene kurang begitu akrab dengan seni tradisi.

“Keinginan kami sebenarnya membuat dangdut ini bisa menjadi jadi media untuk mengenalkan budaya. Tapi mungkin ada yang kurang pas, kami mohon maaf,” ungkap Bowo.

Sementara pengelola panggung hiburan XT Square, Budi Ikun mengatakan, pihaknya dari awal tidak mengetahui konsep yang akan dihadirkan OM Bolodewo. Sebab pengelola cukup memfasilitasi karena sudah disewa OM Bolodewo untuk pentas ulangtahun grup tersebut.

“Kami tidak pernah ada niatan atau pikiran untuk melecehkan pihak manapun. Demikian juga dengan OM Bolodewo yang kami konfirmasi sesaat setelah jadi viral di medsos, tidak punya niat melecehkan. Namun demikian, selaku pengelola kami juga mohon maaf jika terjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah kami perkirakan ini,” ucap Ikun.

Kendati demikian, Ikun menjelaskan dari sisi aturan penampilan, sebenarnya tidak ada yang dilanggar dari pentas OM Bolodewo tersebut. Kostum yang dikenakan juga tidak terlalu seksi dan masih dalam batasan untuk tampil di panggung hiburan XT Square. Hanya saja kejadian ini menjadikan pengelola lebih cermat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara itu, salah satu pelaku seni tradisi pedalangan Yogyakarta, Ki Catur ‘Benyek’ Kuncoro mengatakan, kejadian tersebut sebaiknya diklarifikasi terlebih dulu ke pihak penyelenggara atau grup yang tampil sehingga tidak langsung menghakimi. Sesuatu bisa dibilang ‘pelecehan’ jika ada unsur kesengajaan.

“Kalau unsurnya ketidaktahuan bukan pelecehan dong. Jika memang ada unsur kesengajaan atau pembiaran, semisal di situ ada peran pelaku seni tradisi yang notabene tahu batas dan norma, bisa masuk kategorinya. Tapi kalau mereka menyikapi bahwa kostum juga fashion, saya pikir itu karena unsurnya ketidaktahuan saja,” jelas Ki Benyek.

Ia menambahkan, seperti halnya posisi gamelan misalya. Apakah instrumen itu akan diperlakukan sebagai sumber bunyi atau sumber nada. Jika sumber bunyi, tidak ada masalah dengan larasan, pathet dan sebagainya. Tapi jika sebagai sumber nada, perlu patuh pada aturan yang sudah ditetapkan, misal cara nabuh dan lainnya.

Insan Ketoprak Yogyakarta, Sugiman Dwi Nurseto mengatakan hal tersebut bukan kreativtas. Malahan arahnya bisa menuju pelecehan budaya tradisi karena jelas memakai idiom seni tradisi berupa kostum tari/wayang yang notabene seni adiluhung.

“Jika itu kekinian, apakah harus begitu? Eman banget. Apalagi di Yogya yang sangat kental dengan budayanya. Sangat penting masalah ini harus segera diklarifikasi. Jangan sampai opini berkembang liar yang akhirnya suasana menjadi lebih keruh dan dimanfaatkan oknum untuk memecah belah,” ungkapnya.

(Ari)


Berikan komentar