WEBSITE INI DIJUAL
Total artikel lebih dari 12,000.
Hubungi +1 816 281 6441 (WhatsApp)
KIRIM PESAN WA SEKARANG
FEE BAGI PERANTARA/PIHAK KETIGA Rp. 10,000,000 ke atas
Peristiwa

Rekonsiliasi Jawa-Sunda, perubahan nama jalan di Surabaya diwarnai walk out

Ditulis oleh BCC

Berita.cc – Tarik ulur perubahan dua nama jalan di Surabaya: Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda dan Gunungsari menjadi Prabu Siliwangi ‘memanas’ di gedung dewan. Situasi ini terlihat saat paripurna di DPRD Surabaya digelar Sabtu (11/8).

Sejak mulai digelar pukul 12.00 WIB, sidang yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Surabaya, Masduki Toha itu diwarnai hujan interupsi dan protes sejumlah kalangan. Bahkan, dua politikus NasDem memilih walk out, saat perubahan nama jalan disetujui pimpinan rapat.

Masduki beralasan, disetujuinya perubahan dua nama jalan tersebut karena dia sudah menerima laporan kerja Pansus (panitia khusus) yang menyatakan sudah beres. Artinya tidak ada dampak apapun bagi masyarakat, sehingga perubahan nama jalan bisa dilaksanakan.

Tapi nyatanya klaim Masduki tak sesuai pernyataan Ketua Pansus Perubahan Nama Jalan, Fathul Muid. Dan karena tak sepaham dengan Masduki, politikus NasDem ini memilih mundur dari ketua Pansus. “Banyak masyarakat menolak. Dan saya tetap bersama rakyat, makanya saya pilih mundur,” tegasnya.

Protes juga datang dari anggota Komisi C, Vinsensius Awey yang juga dari NasDem. Dia menilai, keputusan perubahan nama jalan ini mengaburkan fakta sejarah. “Pemerintah harus hadir, bukan menjajah kepentingan masyarakat. Ini yang terjadi adalah penjajahan baru. Ruang publik yang nyata-nyata menjadi saksi sejarah Kota Surabaya dihilangkan,” tegas Awey.

Lantaran tidak sepakat, Awey pun memutuskan walk out bersama Fathul Muid. Keduanya menyatakan tidak ikut bertanggung jawab apabila terjadi permasalahan hukum dan gejolak di kemudian hari.

Sebelumnya, perubahan nama Jalan Dinoyo dan Gunungsari ini bermula dari pertemuan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono.

Ketiganya sepakat untuk merekonsiliasi hubungan Jawa-Sunda akibat Perang Bubat di zaman Majapahit Abad ke-14. Rekonsiliasi disepakati dengan mengubah nama jalan di Surabaya dan Bandung. Jalan Gunungsari di Surabaya diganti dengan Jalan Prabu Siliwangi dan Dinoyo ganti Jalan Sunda. Sementara Bandung, sepakat mengganti nama salah satu jalan di kotanya dengan Jalan Majapahit.

Selanjutnya, persetujuan itu dibawa ke Pemkot Surabaya untuk dimintakan persetujuan DPRD. Kemudian terjadilah pro-kontra, baik di internal Pansus DPRD Surabaya maupun di kalangan masyarakat. [bal]

Berikan komentar