WEBSITE INI DIJUAL
Total artikel lebih dari 12,000.
Hubungi +1 816 281 6441 (WhatsApp)
KIRIM PESAN WA SEKARANG
FEE BAGI PERANTARA/PIHAK KETIGA Rp. 10,000,000 ke atas
Nusantara

Kisah Kakek 135 Tahun yang Selamat dari Gempa 7,0 SR Lombok

Ditulis oleh BCC

LOMBOK – Ahyudin Rasyid, salah satu warga Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang selamat dari guncangan gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter (SR) pada Minggu 5 Agustus 2018, sekira pukul 18.46 WIB. Ia selamat dari reruntuhan rumahnya yang roboh ketika gempa dengan kedalaman 15 kilometer itu melanda NTB.

Saat gempa yang berpusat di darat 18 km barat laut, Kabupaten Lombok Timur atau 22 km timur laut, Kabupaten Lombok Utara, tersebut terjadi, kedua kaki pria berusia 135 tahun ini tertimpa reruntuhan bangunan. Tepatnya di bagian betis kiri dan pangkal pergelangan kaki.

Sejak gempa terjadi hingga hari ketiga pascagempa, kakek Ahyudin sama sekali belum mendapat perawatan medis. Dirinya hanya bertahan di dalam tenda pengungsian. Sementara luka di bagian kakinya sama sekali belum diobati. Kejadian ini membuat kaki kirinya mengalami patah.

Ahyudin beruntung bisa selamat saat kejadian gempa. Namuan, istri tercintanya meninggal dunia dalam bencana alam ini. Sementara bangunan rumah yang dia tinggali sudah tidak dapat dihuni lantaran rusak parah.

Kepada Berita.cc, Direktur Utama Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Wildhan Dewayana menceritakan bahwa kakek Ahyudin benar telah berusia 135 tahun. Saat terjadi gempa, dia mengalami patah kaki. Sebab ketika itu kakinya terhimpit reruntuhan beton rumah. Kini dirinya sama sekali tidak bisa berjalan.

Kakek Ahyudin, sampai Wildhan, sudah lahir pada zaman penjajahan Belanda. Di masa pendudukan Jepang, dia juga sempat menjadi tentara untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

(Foto: IZI)

”Saat gempa, kaki kakek (Ahyudin) terhimpit reruntuhan bangunan. Tidak bisa jalan. Dia hanya diam di tenda pengungsi. Kakek kesakitan belum memperoleh pengobatan yang memadai hingga Rabu 8 Agustus 2018,” ungkap Wildhan kepada Berita.cc, Minggu 12 Agustus 2018.

”Pada Rabu 8 Agustus 2018 lalu Tim Medis IZI sampai di lokasi dan langsung mendatangi kakek tersebut,” sambung Wildhan.

Ia menyampaikan, saat terjadi gempa istri dari kakek Ahyudin tidak dapat diselamatkan. Ketika itu istri kakek tertimpa reruntuhan bangunan rumah. Saat terjadi gempa, kakek Ahyudin berusaha menyelamatkan istrinya yang masih berada di dalam rumah.

Namun oleh anak-anaknya, kakek diminta tidak masuk ke rumah dan segera keluar. Tidak lama kemudian, rumah kakek roboh. Saat keluar dari rumah itulah kakinya terkena reruntuhan.

Saat ini, kakek Ahyudin sudah mendapat perawatan dari Tim Medis IZI. Dia masih berada di Posko IZI, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

”Dia (kakek Ahyudin) sudah keluar dari rumah. Dia lihat istrinya masih duduk di dalam rumah, terpaksa dia masuk lagi untuk memberikan bantuan kepada istrinya. Setelah masuk, dia langsung disuruh keluar, dan saat itulah kakinya terhimpit retuntuhan bangunan,” cerita Wildhan.

3.400 Warga Desa Dangiang Bertahan di Tenda Pengungsian

Desa Dangiang, sampai Wildhan, merupakan daerah terparah terkena dampak gempa di Lombok. Di desa ini bangunan rumah hampir 100 persen hancur dan rata dengan tanah.

Desa ini merupakan daerah transmigrasi sejak 1967. Penduduknya, terang Wildhan, adalah warga transmigrasi lokal yang sebelumnya berasal dari beberapa daerah di Kabupaten Lombok Tengah.

Jumlah penduduk desa tersebut 3.300 hingga 3.400 jiwa atau sekira 850 kepala keluarga (KK). Namun, akibat gempa 7,0 SR, seluruh bangunan rumah mengalami rusak berat hingga luluh lantak, rata dengan tanah.

Di desa ini terdapat 7 masjid, 8 musala, 5 bangunan PAUD, 1 bangunan SD, 1 MI, 1 MTs, 1 MA, dan sejumlah fasilitas umum lain. Diketahui ada gedung kantor desa, koperasi desa serta seluruh kios, warung, dan bangunan-bangunan pertokoan yang ada.

”Sampai hari ini seluruh fasiltas umum hancur dan tak berfungsi, termasuk saluran air bersih, baik yang dibangun PDAM maupun yang secara mandiri di bangun warga berupa perpipaan dari sumber air bersih di pegunungan di atas desa,” jelas Wildhan.

Ia mengatakan, rerata warga di desa ini bekerja sebagai petani, buruh tani atau penggarap, buruh, pekerja bangunan, ahli mebel, dan TKI/TKW. Tidak kurang dari 150 orang menjadi TKI/TKW di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan Saudi Arabia.

Titik pengungsian yang ada di Desa Dangiang tersebar di sejumlah titik. Titik terbesar dengan lebih dari 400 jumlah pengungsi ada di Melepahsari, di Sarimbun ada 200 jiwa, serta 8 tempat lainnya dalam jumlah lebih kecil tersebar di Dangiang Timur.

”Jumlah posko kecil-kecil ini mengelompok sesuai jumlah keluarga besar atau gabungan keluarga yang ada. Rata-rata komunitas ini berjumlah 10 sampai 30 kepala keluarga atau setara 20 hingga 70 jiwa,” jelas Wildhan.

Secara umum, penduduk korban gempa tidak ada yang tidur di dalam rumahnya atau bangunan yang ada. Sebab, selain adanya kekhawatiran terjadi lagi gempa susulan, hampir semua kondisi bangunan yang tersisa justru berbahaya bagi siapa pun yang ada di dekatnya.

Rekomendasi yang cukup besar, jelas Wildhan, adanya usulan untuk pembuatan masjid dan musala darurat plus tempat wudhu/pancuran air serta tandon-nya. Di mana untuk kebutuhan masjid darurat, dibutuhkan terpal/tenda yang lebih besar serta alas/tikar untuk salat berjama’ah warga yang jumlahnya 250 hingga 300 orang jamaah.

”Setelah kami berkeliling dan bertemu dengan sejumlah pihak, baik dari unsur pemerintah desa, ustadz dan kiai yang ada di sini, di dapat sejumlah usulan program. Mulai dari penyediaan tenda/terpal untuk 100 buah, penyediaan tandon air/toren sebanyak 10 buah, tikar untuk alas tenda/terpal 100 buah,” sampai Wildhan.

”Genset, selimut untuk korban yang rentan (anak kecil dan balita, yang sakit, ibu-ibu menyusui dan hamil, lansia dan yang luka-luka), alat-alat dapur, alat-alat kebersihan diri (higyne kit) seperti sabun, odol, shampo dan lain-lainnya,” sambung Wildhan.


Berikan komentar