WEBSITE INI DIJUAL
Total artikel lebih dari 12,000.
Hubungi +1 816 281 6441 (WhatsApp)
KIRIM PESAN WA SEKARANG
FEE BAGI PERANTARA/PIHAK KETIGA Rp. 10,000,000 ke atas
Nusantara

Kisah Korban Gempa Lombok Bertahan Hidup dengan Makan Daun dan Ikan Bekas

Ditulis oleh BCC

LOMBOK – Sepekan sudah gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter (SR) melanda wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, bencana alam yang menimbulkan korban jiwa 392 orang serta korban luka-luka 1.353 orang itu masih membekas di benak para korban selamat. Tidak terkecuali di Dusun Timur Tengah, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

Gempa yang terjadi sekira pukul 18.46 WIB, Minggu 5 Agustus 2018, itu menghancurkan bangunan sarana pendidikan, sarana ibadah, kesehatan, fasilitas umum, dan rumah penduduk. Termasuk juga permukiman di Dusun Timur Tengah, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan. Akibatnya, warga setempat kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi ke tenda-tenda.

Dua hari usai gempa, warga di Dusun Timur Tengah belum mendapat bantuan dari pihak mana pun. Baik itu berupa tenda, makanan siap saji, maupun kebutuhan sehari-hari. Warga terpaksa bertahan hidup dengan memakan dedaunan yang ada di sekitar perkarangan rumahnya.

Mirisnya lagi, mereka mencari ikan yang tersimpan di bawah reruntuhan bangunan rumah. Hal itu dilakukan lantaran bantuan makanan belum sampai di Dusun Timur Tengah. Sementara bantuan mulai berdatangan ke daerah mereka pada Selasa 7 Agustus.

Kepada Berita.cc, Direktur Utama Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Wildhan Dewayana menceritakan bahwa Dusun Timur Tengah, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, merupakan daerah terparah akibat gempa 7,0 SR. Di sana permukiman penduduk, sarana pendidikan, masjid, dan fasilitas umum lainnya nyaris hancur 100 persen.

Salah satu warga di daerah itu pascagempa bahkan sempat bertahan hidup dengan mengonsumsi dedaunan serta ikan yang ada di bawah reruntuhan rumahnya. Sebab usai gempa, bantuan sama sekali belum ada di wilayah ini.

”Saya langsung cari beras waktu itu, supaya nenek bisa makan nasi,” cerita Wildhan kepada Berita.cc, Minggu 12 Agustus 2018.

Warga yang memakan dedaunan dan ikan bekas di bawah reruntuhan tersebut, lanjut Wildhan, ditemui ketika menyusuri lokasi paling parah di Desa Dangiang. Ketika itu salah satu warga setempat sedang masak ikan. Saat ditanya, ikan tersebut diungkapkan diperoleh di bawah puing-puing rumah.

”Ikan itu didapat di bawah puing-puing rumahnya yang dia ingat memang masih menyimpan ikan sebelum gempa terjadi. Sebelumnya, ibu itu makan banyak daun-daunan di sekitar rumahnya. Ikan itu di makan dengan daun-daunan,” paparnya.

Wildan menyampaikan, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) IZI telah menyalurkan bantuan kepada korban gempa di Lombok. Mereka juga mendirikan tiga posko. Posko utama berada di Jalan Sapta Pesona Nomor 100 Pagutan, Kota Mataram, NTB.

Lalu Pos Tanjung yang beralamat di Jalan Sigar Penjalin, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Pos ketiga di Kayangan, Jalan Raya Dangiang–Melepah, Dusun Dangiang Timur, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

Aktivitas yang dilakukan, jelas Wildan, pihaknya telah melakukan penyisiran daerah terdampak gempa di sekitar Posko IZI. Tidak hanya itu, digelar juga survei kebutuhan warga di Desa Gumantar bersama relawan lokal, memberikan layanan kesehatan untuk warga korban gempa di Posko Kayangan dan sekitarnya.

Kemudian pengiriman logistik dan barang kebutuhan pengungsi yang dari Surabaya. Lalu pengelolaan dapur umum untuk relawan di Posko Kayangan, mendistribusikan makanan dan air minum mineral sejumlah 500 paket untuk dibagikan, serta mendistribusikan tenda, selimut, air mineral, terpal, dan lainnya.

”Rencana aksi lanjutan kami akan mendistribusi makanan dan minuman siap saji, beras, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Lalu mendistribusi tenda, selimut, dan terpal. Pendirian dapur umum untuk posko bayangan/satelit dua titik lokasi pengungsian,” jelasnya.

”Kami juga akan mendistribusikan kebutuhan kelompok rentan (balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia). Pendirian tenda famili, musala/masjid darurat. Penyediaan tandon air/penampung air untuk keperluan wudhu/ibadah lainnya, serta penyediaan rukuh/mukena dan sarung untuk salat dan ibadah lainnya,” terangnya.

(han)


Berikan komentar