WEBSITE INI DIJUAL
Total artikel lebih dari 12,000.
Hubungi +1 816 281 6441 (WhatsApp)
KIRIM PESAN WA SEKARANG
FEE BAGI PERANTARA/PIHAK KETIGA Rp. 10,000,000 ke atas
Lain-lain

Dedi Mulyadi Bangga Anak Didiknya Cetak Gol pada Laga Indonesia Vs Thailand

PURWAKARTA, Berita.cc – Salah satu pemain jebolan SSB ASAD Jaya Perkasa, Fajar Faturahman, menjadi satu-satunya pencetak gol di waktu normal saat Timnas U-16 Indonesia melawan Timnas U-16 Thailand.

Pertandingan Timnas U-16 Indonesia kontra Timnas U-16 Thailand tersebut berakhir dengan drama adu pinalti. Stadion Gelora Delta Sidoarjo menjadi saksi sejarah skor 4-3 yang mengantarkan Timnas U-16 Indonesia menjadi juara AFF.

SSB ASAD Jaya Perkasa Purwakarta menjadi salah satu pihak yang turut bangga dengan kemenangan tersebut. Perjuangan sekolah sepak bola ini berbuah manis, salah satu jebolan ASAD, Fajar Faturrahman, menjadi satu-satunya pencetak gol saat waktu normal. Sekolah sepak bola ini merupakan binaan mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Pembina ASAD Jaya Perkasa Purwakarta, Dedi Mulyadi berterima kasih atas dedikasi anak-anak ASAD selama turnamen berlangsung. Latihan keras penuh disiplin disertai doa, menurut dia, menjadi faktor penentu kemenangan.

“Saya terus terang terharu, saya bahagia. Anak-anak dari desa mampu membuktikan diri. Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada semua pihak. Ini kado untuk peringatan kemerdekaan kita,” kata Dedi di kediamannya, Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Minggu (12/8/2018).

Manajer ASAD Jaya Perkasa, Habib Alwi Hasan Syua’aib mengungkapkan, pemikiran kultural ketua DPD Partai Golkar Jabar itu diadopsi menjadi peraturan ASAD. Di antaranya, anak SSB ASAD Jaya Perkasa diharuskan bangun tidur sebelum ayam berkokok.

Baca juga: 4 Pemain Timnas U-16 Temui Dedi Mulyadi untuk Ucapkan Terima Kasih

Artinya, kata Alwi, mereka harus bangun di waktu subuh dan melaksanakan salat subuh berjemaah. Setelah itu, siswa diharuskan mengaji sebelum melahap berbagai menu latihan.

“Anak ASAD yang muslim shalat subuh berjamaah kemudian mengaji. Teman-temannya yang non-muslim menyesuaikan mempelajari kitab agamanya. Intinya, bangun pagi menjadi kewajiban. Ini belajar karakter,” ujar Alwi menirukan gaya bicara Dedi Mulyadi.

Dalam skuad asuhan pelatih Fachri Husaini, terdapat lima pemain lulusan ASAD Jaya Perkasa. Mereka adalah Yadi Mulyadi, Hamsa Medari Lestahulu, Muhammad Fajar Faturrahman, Ahludz Dzikri, dan Muhammad Talaohu.

Kekuatan anak desa

Pemilihan anak desa untuk menjadi siswa ASAD bukan tanpa alasan. Menurut Alwi, kultur anak desa cenderung kuat dan tidak cengeng saat menerima pengajaran. Meskipun, ia mengakui bahwa kultur tersebut ada di anak kota dalam frekuensi yang tidak massif.

“Kuat dalam berbagai hal dan mudah diarahkan, tidak cengeng. Ini terus terang saja melatarbelakangi saya dan Kang Dedi untuk terus ‘apruk-aprukan’ (menjelajahi) desa. Kita konsisten mencari bibit pemain sepak bola,” katanya.

Dedi Mulyadi sendiri mengamini keterangan koleganya tersebut. Fans fanatik klub premier league Chelsea itu mengaku saat ini sedang melanjutkan tren positif pembinaan. Momen Agustusan ia gunakan untuk menggelar turnamen sepakbola.

Batas usia di bawah 15 tahun ditentukan agar dapat diarahkan menjadi pemain sepak bola profesional. Selain itu, para orang tua diwajibkan menonton pertandingan mereka untuk memberikan dukungan moral.

“Nanti masuk seleksi kita, ada kontrak sampai umur 18 tahun kita bina menjadi pemain sepakbola modern,” ujar Dedi.

Baca juga: Dedi Mulyadi: Obor Asian Games, Semangat Olahraga Bangsa Asia

Dedi menyebut siswa berprestasi yang dicetak ASAD harus fokus selama menjalani latihan.

“Kalau berprestasi tidak boleh dulu menjadi model iklan, harus fokus. Kita sekarang ada turnamen sampai Desember, empat kabupaten kita libatkan,” tambahnya.

Berikan komentar